Sabtu, 07 April 2012

Makalah Kalimat Efektif


KALIMAT EFEKTIF

Makalah ini Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas Kelompok
Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Dosen Pembimbing : Dra. Hj. Kadaryati, M.Hum.




Description: G:\ump.jpg



Disusun Oleh:
Wahy Daniyah
Kelas IG

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
2011-2012
MOTTO

QS. At-Tahrim:6
يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُواقُوا أَنفُسَكُمْوَأَهْلِيكُمْنَارًاوَقُودُهَاالنَّاسُوَالْحِجَارَةُعَلَيْهَامَلَائِكَةٌغِلَاظٌشِدَادٌ لَايَعْصُونَ
اللَّهَمَاأَمَرَهُمْوَيَفْعَلُونَمَا يُؤْمَرُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim:6).











    
    



KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

           Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan petunjuk dan kemudahan kepada penyusun sehingga dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Kalimat Efektif” dengan baik.
           Makalah ini dapat tewujud berkat adanya bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penyusun mengucapkan terima kasih kepada:
1.      , selaku dosen pembimbing mata kuliah Bahasa Indonesia dalam pembuatan makalah ini dengan penuh kecermatan dan ketelitian.
2.      Kedua orang tua tercinta yang selalu membimbing dan memberikan do’a restunya.
3.      Seluruh staf perpustakaan Universitas Muhammadiyah Purworejo yang telah memfasilitasi buku-buku sumber acuan pembuatan makalah ini.
4.      Semua teman-teman kelas 2G yang telah memberikan semangat dan dorongan kepada penyusun dalam penyelesaian makalah ini.
5.      Semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian penulisan makalah ini.
Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat penyusun harapkan guna perbaikan dan penyempurnaan penulisan makalah berikutnya.
            Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pemerhati pendidikan pada umumnya. Serta merupakan wujud sebuah pengabdian kami kepada Allah SWT.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

                                                                                                Purworejo,  Maret 2012

Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL………………………………………………………….    i
MOTTO……………………………………………………………………….   ii   
KATA PENGANTAR………………………………………………………..   iii
DAFTAR ISI………………………………………………………………...     iv
BAB I       PENDAHULUAN………………………………………….….…         1
BAB II      PEMBAHASAN……………………………….……                       2
A.    Pengertian Kalimat Efektif…..………………………..……       3
B.     Ciri-Ciri Kalimat Efektif………………………….………..        5
C.     Syarat-Syarat Kalimat Efektif……………………………….     6
D.    Struktur Kalimat
E.     Unsur-Unsur Kalimat
BAB IV    PENUTUP……………………………………………………….     23
A.    Simpulan……………………………………………………       23
B.     Saran……………………………………….……                        24
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………..

BAB I
PENDAHULUAN

Hal yang menyebabkan kalimat menjadi bidang kajian bahasa yang penting antara lain karena dengan perantaraan kalimatlah sesorang baru dapat menyampaikan maksudnya secara lengkap dan jelas. Satuan bahasa yang sudah kita kenal sebelum sampai ada tataran  kalimat adalah kata (mis. Tidak) dan frasa atau kelompok kata (mis. tidak tahu). Kedua bentuk itu, kata an frasa, tidak dapat mengugkapkan maksud secara lengkap dan jelas, kecuali jika keduanya sedang berperan sebgai kalimat minor. Untuk dapat berkalimat dengan baik, perlu kita pahami terlebih dahulu struktur dasar suatu kalimat.
Kalimat adalah bagian ujaran yang mempunyai struktur miimal ubjek (S) dan predikat (P) dan inntonsinya menunjukkan bagian ujaran itu sudah lengkap engan makna. Intonasi final kalimat dalam bahasa tulis dilambangkan dengan titik, tanda tanya, atu tand seru. Penetapan struktur minimal S dan P dalam hal ini menunjukan kalimat bukanlah semata-semata gabungan atau rangkaian kata yang tidak mempunyai kesatuan bentuk.. lengkap dengan makna menunjukan sebuah kalimat harus megandung pokok pikiran yang lengkap sebagai pengungkap maksud penuturnya.











BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan penutur/penulisnya secara tepat sehingga dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Efektif dalam hal ini adalah ukuran kalimat yang memiliki kemampuan menimbulkan gagasan atau pikiran pada pendengar atau pembaca. Dengan kata lain, kalimat efektif  adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara secara tepat sehingga pndengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas dan lengkap seperti apa yang dimasud oleh penulis atau pembicaranya.

B.            Ciri-Ciri Kalimat Efektif
Untuk dapat mencapai keefektifan, suatu kalimat harus memenuhi paling tidak enam syarat berikut, yaitu adanya:
1.             Kesatuan
Yang dimaksud dengan kesatuan adalah terdapatnya satu ide pokok dalam sebuah kalimat. Dengan satu ide itu kalimat boleh panjang atau pendek, menggabungkan lebih dari satu kesatuan, bahkan dapat mempertentangkan satu sama lainnya, asalkan ide atau gagasan kalimatnya tunggal. Penutur tidak boleh menggabungkan dua kesatuan yang tidak mempunyai hubungan sama sekali ke dalam suatu kalimat.
a.       Contoh kalimat yangtidak jelas kesatuan gagasannya:
1)   Pembangunan gedung sekolah baru pihak yayasan dibantu oleh bank yang memberi kredit. (terdapat subjek ganda dalam kalimat tunggal).
2)   Dalam pembangunan sangat berkaitan dengan stabilitas politik. (memakai kata depan yang salah sehingga gagasan kalimat menjadi kacau).
3)   Berdasarkan genda sekretaris manajer personalia akan memberi pengarahan kepada pegawai baru. (tidak jelas siapa yang memberi pengarahan).
b.      Contoh kaimat yang jelas kesatuan gagasannya:
1)   Pihak yayasan dibantu oleh bank yang memberi kredit untuk membangun gedung sekolah baru.
2)   Embangunan sangat berkaitan dengan politik.
3)   Berdasarkan agenda, sekretaris manajer personalia akan memberi pengaran kepada pegawai baru.
2.             Kepaduan (koherensi)
Yang dimaksud koherensi adalah hubungan yan padu antara unsur-unsur pembentuk kalimat. Yang termasuk unsur pembentuk kalimat adalah kata, frasa, klausa, serta tnda baca yang membentuk S-P-O-Pel-Ket dalam kalimat.
a.    Contoh kalimat yang unsurnya tidak koheren:
1)   Kepada setiap pengendara mobil di Kota Jakarta harus memiliki surat izin mengemudi. (tidak mempunyai subjek/subjeknya tidak jelas).
2)   Saya punya rumah baru saja diperbaiki. (struktur tidak benar/rancu)
3)   Tentang kelangkaan pupuk mendapat keterangan para petani. (unsur S- P-O tidak berkaitan erat)
4)   Yang saya sudah saya sarankan kepada mereka adalah merevisi anggaran daripada itu proyek. (salah dalam pemakaian kata dan frasa).
b.        Contoh kalimat yang unsur-unsurnya koheren:
1)     Setiap penendra mobil di Kota Jakarta harus memiliki surat izin mengemudi.
2)     Rumah saya baru saja diperbaiki.
3)     Para petani mendapat keterangan tentang kelangkaan pupuk.
4)     Yang sudah sya sarankan kepada mereka adaah merevisi anggaran proyek itu.
3.       Keparalelan
Yang dimaksud dengan keparalelan atau kesejajaran adalah terdapatnya unsur-unsur yang sam derajatnya, sama pola atau susunan kata dan frasa yang dipakai di dalam kalimat. Umpamanya dalam sebuah perincian , unsur pertama menggunakan verba, unsur kedua dan seterusnyajuga verba. Jika bentuk pertama menggunakan nomina, bentuk berikutnya juga harus nomina.
b.    Contoh kesejajaran atau paralelisme yang salah:
1)   Kegiatan di perpustaakan meliputi pembelian buku, membuat katalog, dan buku-buku diberi label.
2)   Kakakmu menjadi dosen atau pengusaha?
3)   Demikianlah agar ibu maklum, dan atas perhatiannya aya ucapkan terimma kasih.
4)   Dalam rapt itu diputuskan tiga hal pokok, yaitu eningkatan mutu produk, memperbanyak waktu penyiaran ikan dan pemasaran yang lebih gencar.
c.         Contoh kesejajaran atau paralelisme yang benar:
1)   Kegiatan diperpustakaan meliputi pembelian buku, pembuatan katalog dan pelabelan buku.
2)   Kakakmu sebagai dosen atau sebagai pengusaha?
3)   Demikianlag agar Ibu maklum, dan atas perhatian Ibu saya ucapkan terima kasih.
4)   Dalam rapat ini diputuskan tiga hal pokok, yaitu meningkatkan mutu produk, meningkatkan frekuensi iklan dan lebih menggencarkan pemasaran.

4.       Penekanan
Yang dimaksud dengan penekanan adalah suatu perlakuan khusus menonjolkan bagian kalimat sehingga berpengaruh terhadap makna kalimat secara keseluruhan. Cara yang dipakai untuk memberi perlakuan khusus pada kata-kata tertentu ada beberapa, yaitu:
a.                                 Dengan meletakkan kata yang ditonjolkan itu di awal kalimat,
b.                                Dengan melakukan pengulangan kata ( repetisi),
c.                                 Denga melakukan pengontrasan kata kunci,
d.                                Dengan menggunakan partikel/penegas.
Contoh penekanan dengan menempatkan kata yang ditonjolkan pada awal kalimat:
1)   Pada bulan Desember kita ujian akhis semester. (bukan akhir noember.
2)   Kita akan ujiian akhir semester pada bulan Deember. (bukan merreka)
3)   Ujian akhir semester kita tempuh pada bulan Deember. (bukn ujn tengah semester)
Contoh penekanan dengan pengulangan kata:
1)   Saya senng melihat panorama alam yang indah; saya senang melihat lukisan yang indah; dan saya juga senang, melihat hasil seni ukir yang indah.
2)   Sudara-saudara, kita tidak suka dibohongi, kita tidak suka ditipu, kita tidak suka dibodohi.
Contoh  penekanan dengan pengontrasan kata kunci:
1)   Penduduk desa itu tidak menghendaki bantuan yang berifat sementara, tetapi bantuan yang bersifat permanen.
Contoh penekna dengn menggunakan partikel penegas:
1)                  Hendak pulang pun hari sudah gelap dan hujan pula.
2)                  Adakah yang bertanggung jawab menyelesaikan masalah itu.
5.             Kehematan
         Yang dimaksud dengan kehematan ialah menghindari pemakaian kata yang tidak perlu. Hemat tidak bararti harus menghilangkan kata-kata yang dapat memperjelas arti kalimat. Hemat di sini berarti “ekonomis” tidak memakai kata-kata mubazir, tidak mengulang-ulang subjek, tidak menjamakkan kata yang sudah berbentuk jamak. Dengan hemat kata-kata, diharapkan kalimat menjadi padat berisi.
a.         Contoh kalimat yang tidak hemat kata:
1)      Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri bahwa mahasiswa itu belajar seharian dari pagi sampai petang.
2)      Dalam pertemuan yang mana hadir di sana Wakil Gubernur DKI dilakukan suatu perundingan yang membicarakan perparkiran.
3)      Manajer itu dengan segera mengubah rencananya setelah dia bertemu dengan direkturnya.
4)      Agar supaya Anda dapat memperoleh nilai ujian yang memuaskan, Anda harus belajar dengan sebaik-baiknya.
b.        Contoh kalimat yang hemat kata:
1)      Saya melihat sendiri mahasiswa itu belajar seharian.
2)      Dalam pertemuan yang dihadiri Waki Gubernur DKI dilakukan perundingan tentang perparkiran.
3)      Manajer itu dengan segera mengubah rencana setelah bertemu direkturnya.
4)      Agar Anda memperoleh nilai ujian yan memuaskan, belajarlah baik-baik.
6.      Kelogisan
         Yang dimaksud dengan kelogisan ialah mengupayakan agar ide kalimat masuk akal. Logis dalam hal ini juga menuntut adanya pola piker yang sistematis (runtut/teratur dalam penghitungan angka dan penomoran). Sebuah kalimat yang sudah benar strukturnya, sudah benar pula pemakaian tanda baca, kata, dan frasa, dapat menjadi salah karena maknanya tidak masuk akal atau lemah dari segi logika. Perhatikan contoh kalimat yang lemah dari segi logika berbahasa berikut ini:
a.    Kambing sangat senang bermain hujan. (padahal kambin tergolong anti air).
b.    Karena lama tinggal di asrama putra, anaknya semua laki-laki. (apa hubungan tinggal di asrama putra dengan mempunyai anak lelaki?).
c.    Uang yang bertumpuk itu terdiri atas pecahan ratusan, puluhan, sepuluh ribuan, lima puluh ribuan, dua puluh ribuan. (tidak runtut dalam merinci sehingga lemah dari segi logika).
d.   Kepaada Bapak Dekan, waktu dan tempat kami persilahkan. (waktu dan tempat tidak perlu dipersilahkan)).
e.    Dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan, selesailah makalah ini tepat pada waktunya. (berarti “modal” untuk menyelesaikan makalah cukuplah ucapan syukur kepada Tuhan.
7.             Ketegasan
         Ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan terhadap ide pokok dari kalimat. Untuk membentuk penekanan dalam suatu kalimat, ada beberapa cara, yaitu:
a.    Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat)
Contoh:
1)      Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain.
2)      Pada kesempatan lain, kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini. (ketegasan)
3)      Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
4)      Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya. (ketegasan)
b.    Membuat urutan kata yang bertahap.
Contoh:
1)      Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar. (salah)
2)      Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar. (benar)
c.    Melakukan pengulangan kata (repetisi)
Contoh:
Cerita itu begitu menarik, cerita itu sangat mengharukan.
d.                  Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
Anak itu bodoh, tetapi pintar.
e.    Mempergunakan partikel penekanan (penegasan), seperti: partikel –lah, -pun, dan –kah.
Contoh:
1)      Dapatkah mereka mengerti maksud perkataanku?
2)      Dialah yang harus bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas ini

C.           Syarat-Syarat Kalimat Efektif
Syarat-syarat kalimat efektif adalah sebagai berikut:
1.    Secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya.
2.        Mengemukakan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau pembaca dengan yang dipikirkan pembaca atau penulisnya.

D.           Struktur Kalimat
          Struktur kalimat efektif haruslah benar. Kalimat itu harus memiliki kesatuan bentuk, sebab kesatuan bentuk itulah yang menjadikan adanya kesatuan arti. Kalimat yang strukturnya benar tentu memiliki kesatuan bentuk dan sekaligus kestuan arti. Sebaliknya kalimat yang strukturnya rusak atau kacau, tidak menggambarkan kesatuan apa-apa dan merupakan suatu pernyataan yang salah.
          Jadi, kalimat efektif selalu memiliki struktur atau bentuk yang jelas. Setiap unsur yang terdapat di dalamnya (yang pada umumnya terdiri dari kata) harus menempati posisi yang jelas dalam hubungan satu sama lain. Kata-kata itu harus diurutkan berdasarkan aturan-aturan yang sudah dibiasakan. Tidak boleh menyimpang, aalagi bertentangan. Setiap penyimpangan biasanya akan menimbulkan kelainan yang tidak dapat diterima oleh masyarakat pemakai bahasa itu.
          Misalnya, Anda akan menyatakan Saya menulis surat buat papa. Efek yang ditimbulkannya akan sangat lain, bila dikatakan:
1.    Buat Papa menulis surat saya.
2.    Surat saya menulis buat Papa.
3.    Menuis saya surat buat Papa.
4.    Papa saya buat menulis surat.
5.    Saya Papa buat menulis surat.
6.    Buat Papa surat saya menulis.
Walaupun kata yang digunakan dalam kalimat itu sama, namun terdapat kesalahan. Kesalahan itu terjadi karena kata-kata tersebut (sebagai unsur kalimat) tidak jelas fungsinya. Hubungan kata yang satu dengan yang lain tidak jelas. Kata-kata itu juga tidak diurutkan berdasarkan apa yang sudah ditentukan oleh pemakai bahasa.
          Demikinlah biasanya yang terjadi akibat penyimpangan terhadap kebiasaan struktural pemakaian bahasa pada umumnya. Akibat selanjutnya adalah kekacauan pengertian. Agar hal ini tidak terjadi, maka si pemakai bahasa selalu berusaha mentaati hokum yag sudah dibiasakan.

E.            Unsur-Unsur Kalimat
          Unsur kalimat adalah fungsi sintaksis yang daam buku-buku tata bahasa Indonesia lama lazim disebut jabata kata dan kini disebut peran kata dalam kalimat, yaitu subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (Ket). Kalimat bahasa Indonesia baku sekurang-kurangnya terdiri atas dua unsur, yakni subjek dan predikat. Unsur yang lain (objek, pelengkap, dan keterangan) dalam suatu kalimat dapat wajib hadir, tidak wajib hadir, atau wajib tidak hadir.
1.    Predikat
         Predikat (P) adalah bagian kalimat yang memberitahu melakukan (tindakan) apa atau dalam keadaan bagaimana subjek (pelaku/tokoh atau benda di dalam suatu kalimat). Selain memberitahu tindakan atau perbuatan subjek (S), P dapat pula menyatakan sifat, situasi, status, ciri, atau jatidiri S. termasuk juga sebagai P dalam kalimat adalah pernyataan tentang jumlah sesuatu yang dimiliki oleh S. predikat dapat juga berupa kata atau frasa, sebagian besar berkelas verba atau adjektiva, tetapi dapat juga numeralia, nomina, atau frasa nominal. Perhatikan contoh berikut:
a.    Kuda meringkik.
b.    Ibu sedang tidur siang.
c.    Putrinya cantik jelita.
d.   Kota Jakarta dalam keadaan aman.
e.    Kucingku belang tiga.
f.     Robby mahasiswa baru.
g.    Rumah Pak Hartawan lima.
          Kata-kata yang dicetak tebal dalam kalimat di atas adalah P. kata meringkik pada kalimat (a) memberitahukan perbuatan kuda. Kelompok kata sedang tidur siang pada kalimat (b) memberitahukan melakukan apa ibu, cantik jelita pada kalimat (c) memberitahukan bagaimana putrinya, dalam keadaan aman pada kalimat (d) memberitahukan situasi kota Jakarta, belang tiga pada kalimat (e) memberitahukan ciri kucingku, mahasiswa baru pada kalimat (f) memberitahukan status Robby, dan lima pada kalimat (g) memberitahukan jumlah rumah Pak Hartawan.
          Berikut ini contoh kalimat yang tidak memiliki P karena tidak ada kata-kata menunjuk pada perbuatan, sifat, keadaan, ciri, atau status pelaku atau bendanya.
a.       Adik saya yang gendut lagi lucu itu.
b.      Kantor kami yang terletak di Jln. Gatot Subroto.
c.       Bandung yang terkenal kota kembang.
    Walaupun contoh (a), (b), (c) ditulis persis seperti lazimnya kalimat normal, yaitu diawali dengan huruf kaital da diakhiri dengan tanda titik, namun di dalamnya tidak ada satu kata pun yang berfungsi sebagai P. Tidak ada jawaban atas pertanyaan melakukan apa adik yang gendut lagi lucu (pelaku) pada contoh (a), tidak ada jawaban atas pertanyaan kenapa atau ada apa dwngan antor di Jan Gatot Subroto dan Bandung terkenal sebagai kota kembang itu pada contoh (b) dan (c). karena tidak ada informasi tentang tindakan, sifat, atau hal lain yang dituntut oleh P, maka contoh (a), (b), (c) tidak mengandung P. Karena itu, rangkaian kata-kata yang cukup panjang pada contoh (a), (b), (c) itu belum merupakan kalimat, melainkan baru merupakan kelompok kata atau frasa.
2.    Subjek
         Subjek (S) adalah bagian kalimat menunjukkan pelaku, tokoh, sosok (benda), sesuatu hal, suatu masalah yang menjadi pangkal/pokok pembicaraan. Subjek biasanya diisi oleh jenis kata/frasa benda (nominal), klausa, atau frasa verbal. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh sebagai berikut ini:
a.       Ayahku  sedang melukis.
b.      Meja direktur besar.
c.       Yang berbaju batik dosen saya.
d.      Berjalan kaki menyehatkan badan.
e.       Membangun jalan layang sangat mahal.
         Kata-kata yang dicetak tebal pada kalimat di atas adalah S. Contoh S yang diisi oleh kata dan frasa benda terdapat ada kalimat (a) dan (b), contoh S yang diisi oleh klausa terdapat pada kalimat (c), dan contoh S yang diisi oleh frasa verbal terdapat pada kalimat (d) dan (e).
        Dalam bahasa Indonesia, setiap kata, frasa, klausa pembentuk S selalu merujuk pada benda (konkret atau abstrak). Pada contoh di atas, kendatipun jenis kata yang mengisi S pada kalimat (c), (d) dan (e) bukan kata benda, namun hakikat fisiknya tetap merujuk pada benda. Bila kita menunjuk pelaku pada kalimat (c) dan (d), yang berbaju batik dan berjalan kaki tentulah orang (benda). Demikian juga membangun jalan layang yang menjadi S pada kalimat (e), secara implisit juga merujuk pada “hasil membangun” yang tidak lain adalah benda juga. Di samping itu, kalau diselami lebih dalam, sebenarnya ada nomina yang lesap, pada awal kalimat (c) sampai (e), yaitu orang pada awa kalimat (c) dan kegiatan pada awal kalimat (d) dan (e).
                    Selain ciri di atas, S dapat juga dikenali dengan cara bertanya dengan memakai kata tanya siapa (yang)… atau apa (yang)… kepada P. Kalau ada jawaban yang logis atas pertanyaan yang diajukan, itulah S. Jika ternyata jawabannya tidak ada dan atau tidak logis berarti kalimat itu tidak mempunyai S. Inilah contoh “kalimat” yang tidak mempunyai S karena tidak ada/tidak jelas pelaku atau bendanya.
a.          Bagi siswa sekolah dilarang masuk.
b.         Di sini melayani obat generic.
c.          Memandikan adik di pagi hari.
Contoh (a) sampai (c) belum memenuhi syarat sebagai kalimat karena tidak mempunyai S. Kalau ditanya kepada P, siapa yang dilarang masuk pada contoh (a) siapa yang melayani resep pada contoh (b) dan siapa yang memandikan adik pada contoh (c), tidak ada jawabannya. Kalaupun ada, jawaban itu terasa tidak logis.
3.      Objek
         Objek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi P. objek pada umumnya diisi oleh nomina, frasa nominal, atau klausa. Letak O selalu di belakang P yang berupa verba transitif, yaitu verba yang menuntut wajib hadirnya O, seperi pad contoh di bawah ini.
a.       Nurul menimang …
b.      Arsitek merancang …
c.       Juru masak menggoreng …
Verba transitif menimang, merancang, dan menggoreng pada contoh tersebut adalah P yang menuntut untuk dilengkapi. Unsur yang akan melengkapi P pada ketiga kalimat itulah yang dinamakan objek.
         Jika P diisi oleh verba intransitif, O tidak diperlukan. Itulah sebabnya sifat O dalam kalimat dikatakan tidak wajib hadir. Verba intransitive mandi, rusak, pulang yang menjadi P dalam contoh berikut tidak menuntut untuk dilengkapi.
a.       Nenek mandi.
b.      Komputerku rusak.
c.       Tamunya pulang.
Objek dalam kalimat aktif dapat berubah menjadi S jika kalimatnya dipasifkan. Perhatikan contoh kalimat berikut yang letak O-nya di belakang dan ubahan posisinya bila kalimatnya dipasifkan.
a.       1) Martina Hingis mengalahkan Yayuk Basuki (O)
2)   Yayuk Basuki (S) dikalahkan oleh Martina Hingis.
b.      1) Orang itu menipu adik saya (O)
2)   Adik saya (S) ditipu oleh oran itu.
4.      Pelengkap
         Pelengkap (P) atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi P. letak Pel umumnya di belakang P yang berupa verba. Posisi seperti itu juga ditempati oleh O, dan jenis kata yang mengisi Pel dan O juga sama, yaitu dapat berupa nomina, frasa nominal, atau klausa. Namun, antara Pel dan O terdapat perbedaan. Perhatikan cnntoh di bawah ini:
a.       Ketua MPR membacakan Pancasila.
       S                  P             O
b.      Banyak orpospol berlandaskan Pancasila.
            S                    P            Pel
Kedua kalimat aktif (a) dan (b) yang Pel dan O-nya sama-sama diisi  oleh nomina Pancasila, jika hendak dipasifkan ternyata yang bias hanya kalimat (a) yang menempatkan Pancasila sebagai O. Ubahan kalimat (a) menjadi kalimat pasif adalah sebagai berikut:
Pancasila dibacakan oleh ketua MPR.
        S                     P               O
        Posisi Pancasila sebagai Pel pada kalimat (b) tidak bias dipindah ke depan menjadi S dalam kalimat pasif. Contoh berikut adalah kalimat yang tidak gramatikal.
Pancasila dilandasi oleh banyak orsospol.
        Hal lain yang membedakan Pel dan O adalah jenis pengisinya. Selain diisi oleh nomina dan frasa nominal, Pel dapat juga diisi oleh frasa adjectival dan frasa preposisional. Di samping itu, letak Pel tidak selalu persis di belakang P. Apabila dalam kalimatnya terdapat O, letak pel adalah di belakang O sehingga urutan penulisan bagian kalimat menjadi S-P-O-Pel. Berikut adalah beberapa contoh pelengkap dalam kalimat.
a.       Sutardji membacakan pengagumnya puisi kontemporer.
b.      Mayang mendongengkan Rayhan Cerita si Kancil.
c.       Sekretaris itu mengambilkan atasannya air minum.
d.      Annisa mengirimi kakeknya kopiah bludru.
e.       Pamanku membelikan anaknya rumah mungil.

5.      Keterangan
         Keterangan (Ket) adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal mengenai bagian kalimat yang lainnya. Unsur Ket dapat berfungsi menerangkan S, P, O, dan Pel. Posisinya bersifat bebas, dapat di awal, di tengah, atau di akhir kalimat. Pengisi Ket adalah frasa nominal, frasa preporsisional, adverbia, atau klausa.
         Berdasarkan maknanya, terdapat bermacam-macam Ket daam kalimat. Para ahli membagi keterangan atas Sembilan macam (Hasan Alwi dkk, 1998:366) yaitu seperti yang tertera pada tabel di bawah ini.

JENIS KETERANGAN DAN CONTOH PEMAKAIANNYA
Jenis Keterangan
Posisi/Penghubung
Contoh Pemakaian
1.      Tempat
di
ke
dari
(di) dalam
pada
di kamar, di kota
ke Medan, ke rumahnya
dari Manado, dari sawah
(di) dalam rumah
pada saya, pada permukaan
2.      Waktu
-
pada
dalam
se-
sebelum
sesdah
selama
sepanjang
sekarang, kemarin
pada pukul 5 hari ini
dalam 2 hari ini
sepulang dari kantor
sebelum pukul 12
sesudah makan
selama bekerja
sepanjang hari
3.    Alat
dengan
dengan gunting, dengan mobil
4.    Tujuan
supaya
untuk
bagi
demi
supaya/agar kamu pintar
untuk kemerdekaan
bagi masa depan
demi kekasihmu
5.      Cara
secara
dengan cara
dengan jalan
secara hati-hati
dengan cara damai
dengan jalan berunding
6.      Kesalingan
-
satu sama lain
7.      Similatif
seperti
bagaikan
laksana
seperti angina
bagakan seorang dewi
laksana bintang di langgit
8.      Penyebaban
karena
sebab
karena perempuan itu
sebab kecerobohannya
9.      Penyerta
dengan
bersama
beserta
dengan adiknya
bersama orang tuanya
beserta saudaranya

        























BAB IV
PENUTUP

A.  Simpulan
Kalimat efektif  adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara secara tepat sehingga pndengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas dan lengkap seperti apa yang dimasud oleh penulis atau pembicaranya.
     Ciri-ciri kalimat efektif:
1.         Kesatuan
2.         Kepaduan
3.         Keparalelan
4.         Ketepatan
5.         Kehematan
6.         Kelogisan
7.         Ketegasan
Syarat-syarat kalimat efektif adalah sebagai berikut:
1.    Secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya.
2.    Mengemukakan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar      atau pembaca dengan yang dipikirkan pembaca atau penulisnya.
Penyusunan kalimat efektif, meliputi:
1.        Subjek
2.        Predikat
3.        Objek
4.        Pelengkap
5.        Keterangan

B.       Saran
1.      Bagi para pendidik
Para pendidik sebaiknya memahami dengan seksama dan bena tentang bahasa indnesia yang memiliki berbagai ragam bahasa supaya dalam proses kegiatan belajar mengajar teradi komunikas yang baik dan tepat penggunaan bahasanya antara pendidik dengan peserta didik.
2.      Bagi calon pendidik
Para calon pendidik sebaiknya memahami dan mencari pengetahuan secara seksama mengenai materi dalam makalah ini supaya pada saat pendidik terjun ke lapangan tidak terjadi kekeliruan dalam pemakaian bahasa terhadap peserta didik dengan pedidik.
3.      Bagi lembaga sekolah
Lembaga sekoah sebaiknya memberikan dan menekankan perhatian penuh terhadap penggunaan ragam bahasa yang tepat agar terjalin komunikasi yang selaras.
       Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.



                                                                                                 



Daftar Pustaka

Finoza, Lamuddin. 2002.. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Insan Mulia.
Razak, Abdul. 1985. Kalimat Efektif. Jakarta: Gramedia.
http:////Pengertian, Ciri, dan Penggunaan Kalimat Efektif.html.














Senin, 09 Januari 2012

KEUNIKAN ANGKA 9

1. “Angka2 pada setiap perkalian sembilan, jika dijumlahkan maka hasil akhirnya selalu sembilan“
contoh:
1×9 = 9 —> 9
2×9 =18 —> 1+8=9
3×9 =27 —> 2+7=9
4×9 =36 —> 3+6=9
5×9 =45 —> 4+5=9
6×9 =54 —> 5+4=9
dst…
Hal ini juga berlaku bahkan sampai perkalian yang tinggi…
contoh(acak):
426×9=3834 —> 3+8+3+4=18 —> 1+8=9
15753×9=141777 —> 1+4+1+7+7+7=27 —> 2+7=9
dst…
2. “Jika 12345679 (ingat, tanpa angka 8) dikalikan dengan kelipatan 1-9 dari 9 maka hasilnya pasti mengandung angka berulang“
contoh:
12345679×9=111111111
12345679×18=222222222
12345679×27=333333333
12345679×36=444444444
12345679×45=555555555
12345679×54=666666666
12345679×63=777777777
dst…
3. “Setiap bilangan yang tidak habis dibagi sembilan, maka pada hasilnya angka dibelakang koma akan berulang“
5/9 =0,5555555555555555555555555555555……….dst
245/9 = 27,222222222222222222222222222222………dst
1654465465432/9 = 183829496159,11111111111111111111………dst
dst….
4. “Perkalian angka kembar dua“
contoh: 22×9= 198 —-> perhitungannya seperti ini, 2×9=18 masukkan angka 9 di pertengahan 1dan 8, jadi deh hasilnya 198.
untuk angka kembar tiga juga bisa
contoh: 222×9=1998
penjelasan: masukin 2 angka 9 diantara angka 1 dan 8

Minggu, 20 November 2011

Makalah Pembimbing: Drs. H. Mustofa Bakir Disusun oleh: WAHID WIGIANTO WAHY DANIYAH WAHYU PUJI RIYANTO WIWIK SUPRIHTIN FKIP MATEMATIKA IG Kata Pengantar Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah AIK (Al Islam dan Kemuhammadiyahan). Agama sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji melalui berbagai sudut pandang. Islam sebagai agama yang telah berkembang selama empat belas abad lebih menyimpan banyak masalah yang perlu diteliti, baik itu menyangkut ajaran dan pemikiran keagamaan maupun realitas sosial, politik, ekonomi dan budaya. Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang kaitan Al Islam dan Kemuhammadiyahan), yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi, dan berita. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa UniversitasMuhammadiyah Purworejo. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing saya meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah saya di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca. Purworejo, 10 Oktober 2011 ii Daftar isi Halaman judul…………….……………………………………...…………… I Kata Penantar……………….………………………………………………… ii Daftar Isi………………………...…………………………………………….. iii 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang…………………………………………………….. 1 1.2 Tujuan…………………………………………………………….... 2 2 Pembahasan Kebutuhan Manusia akan Agama………………………………………… 3 2.1 Pengertian Agama………………………………………………… 2.2 Peranan Agama bagi Kehidupan Manusia……..………………… 3 Penutup 3.1 Kesimpulan………………………………………………………… 3.2 Kritik dan Saran…………………………………………………… 4 Daftar Pustaka…………………………………………………………….. iii Pendahuluan 1.1 Latar belakang Ada beberapa alasan tentang mengapa agama itu sangat penting dalam kehidupan manusia, antara lain adalah : • Karena agama merupakan sumber moral • Karena agama merupakan petunjuk kebenaran • Karena agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika. • Karena agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia baik di kala suka, maupun di kala duka. Manusia sejak dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan lemah dan tidak berdaya, serta tidak mengetahui apa-apa sebagaimana firman Allah dalam Q. S. al-Nahl (16) : 78 Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Dia menjadikan untukmu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi sedikit di antara mereka yang mensyukurinya. Dalam keadaan yang demikian itu, manusia senantiasa dipengaruhi oleh berbagai macam godaan dan rayuan, baik dari dalam, maupun dari luar dirinya. Godaan dan rayuan daridalam diri manusia dibagi menjadi dua bagian, yaitu • Godaan dan rayuan yang berysaha menarik manusia ke dalam lingkungan kebaikan, yang menurut istilah Al-Gazali dalam bukunya ihya ulumuddin disebut dengan malak Al-hidayah yaitu kekuatan-kekuatan yang berusaha menarik manusia kepada hidayah ataukebaikan. • Godaan dan rayuan yang berusaha memperdayakan manusia kepada kejahatan,yang menurut istilah Al-Gazali dinamakan malak al-ghiwayah, yakni kekuatan-kekuatan yang berusaha menarik manusia kepada kejahatan. 1 1.2 Tujuan agama Salah satu tujuan agama adalah membentuk jiwa nya ber-budipekerti dengan adab yang sempurna baik dengan tuhan-nya maupun lingkungan masyarakat.semua agama sudah sangat sempurna dikarnakan dapat menuntun umat-nya bersikap dengan baik dan benar serta dibenarkan. keburukan cara ber-sikap dan penyampaian si pemeluk agama dikarnakan ketidakpahaman tujuan daripada agama-nya. memburukan serta membandingkan agama satu dengan yang lain adalah cerminan kebodohan si pemeluk agama. Beberapa tujuan agama yaitu : • Menegakan kepercayaan manusia hanya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa (tahuit). • Mengatur kehidupan manusia di dunia,agar kehidupan teratur dengan baik, sehingga dapat mencapai kesejahterahan hidup, lahir dan batin, dunia dan akhirat. • Menjunjung tinggi dan melaksanakan peribadatan hanya kepada Allah. • Menyempurnakan akhlak manusia. Menurut para peletak dasar ilmu sosial seperti Max Weber, Erich Fromm, dan Peter L Berger, agama merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bagi umumnya agamawan, agama merupakan aspek yang paling besar pengaruhnya –bahkan sampai pada aspek yang terdalam (seperti kalbu, ruang batin)– dalam kehidupan kemanusiaan. 2 2. KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP AGAMA 2.1 Pengertian Agama Dalam masyarakat Indonesia selain dari kata agama dikenal pula kata din ( ) dari bahasa Arab dan dari kata religi dari bahasa Eropa satu pendapat menyatakan bahwa agama itu tersusun dari dua kata, tidak dang am = pergi, jadi tidak pergi, tetap ditempat, diwarisi turun-temurun. Agama memang mempunyai sifat yang demikian, ada lagi pendapat yang menyatakan bahwa agama berarti teks atau kitab suci. Dan agama-agam memang mempunyai kitab-kitab suci, selanjutnya dikatakan lagi bahwa gam berarti tuntutan. Memang agama mengandung ajaran-ajaran yang menjadi tuntunan hidup bagi penganutnya. Di dalam bahasa semik berarti undang-undang atau hukum, dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, hutang, balasan, kebiasaan. Agama lebih lanjut lagi membawa kewajiban-kewajiban yang kalau tidak dijalankan oleh seseorang menjadi hutang baginya. Paham kewajiban dan kepatuhan membawa pula kepada paham batasan baik dari Tuhan yang tidak menjalankan kewajiban dan tidak patuh akan mendapat balasan yang tidak baik. Adapun kata religi berasa dari bahasa latin menurut satu pendapat demikian Harun Nasution mengatakan, bahwa asal kata religi adalah relegre yang mengandung arti mengumpulkan dan membaca. Pengertian demikian itu juga sejarah dengan isi agama yang mengandung kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan yang berkumpul dalam kitab suci yang harus dibaca. Tetapi menurut pendapat lain, kata itu berasal dari kata religere yang berarti mengikat ajaran-ajaran agama memang mengikat manusia dengan Tuhan. Dari beberapa defenisi tersebut, akhirnya Harun Nasution mengumpulkan bahwa inti sari yang terkandung dalam istilah-istilah diatas ialah ikatan agama memang mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia manusia. Ikatan ini mempunyai pengaruh besar sekali terhadap kehidupannya sehari-hari. Ikatan itu berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia, ikatan ghaib yang tidak dapat ditangkap oleh panca indra. 3 Adapun pengertian agama segi istilah dikemukakan sebagai berikut Elizabet K. Nottinghan dalam bukunya agama dan masyarakat berpendapat bahwa agama adalah gesjala yang begitu sering terdapat dimana-mana sehingga sedikit membantu usaha-usaha kita untuk menjual abstraksi ilmiah. Lebih lanjut Noktingham mengatakan bahwa agama berkaitan dengan usaha-usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna ari keberadaannya sendiri dan keberadaan alam semesta. Agama kerah menimbulkan khayalan yang paling luas dan juga digunakan untuk membenarkan kekejaman orang yang luar biasa terhadap orang lain. Agama dapat membangkitkan kebahagiaan batin yang paling sempurna dan juga merasakan takut dan ngeri. Sementara itu Durkheim mengatakan bahwa agama adalah patulan dari solidaritas sosial. Sementara itu Elizabet K. Nottingham yang pendapatnya tersebut tampak menunjukkan pada realitas bahwa dia melihat pada dasarnya agama itu bertujuan untuk mengangkat harkat dan martabat manusia dengan cara memberikan suasana batin yang nyaman dan menyejukkan, tapi juga agama terkadang disalah gunakan oleh penganutnya untuk tujuan-tujuan yang merugikan orang lain. Misalnya, dengan cara memutar balikkan interpretasi agama secara keliru dan berujung pada tercapainya tujuan yang bersangkutan. Selanjutnya karena demikian banyaknya defenisi sekarang agama yang demikian para ahli. Harun Nasution mengatakan dapat diberi defenisi sebagai berikut : 1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan ghaib yang harus dipatuhi. 2. Pengakuan terhadap adanya kekuatan ghaib yang menguasai manusia. 3. Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada diluar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia. 4. Kepercayaan pada suatu kekuatan ghaib yang menimbulkan cara hidup tertentu. 5. Suatu system tingkah laku (code of conduct) yang berasal di kekuatan ghaib. 6. Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan ghaib. 4 2.1 Peranan Agama bagi Kehidupan Manusia Dari segi pragmatisme, seseorang itu menganut sesuatu agama adalah disebabkan oleh fungsinya. Bagi kebanyakan orang, agama itu berfungsi untuk menjaga kebahagiaan hidup. Tetapi dari segi sains sosial, fungsi agama mempunyai dimensi yang lain seperti apa yang dihuraikan di bawah: -Memberi pandangan dunia kepada satu-satu budaya manusia. Agama dikatankan memberi pandangan dunia kepada manusia kerana ia sentiasanya memberi penerangan mengenai dunia(sebagai satu keseluruhan), dan juga kedudukan manusia di dalam dunia. Penerangan bagi pekara ini sebenarnya sukar dicapai melalui inderia manusia, melainkan sedikit penerangan daripada falsafah. Contohnya, agama Islam menerangkan kepada umatnya bahawa dunia adalah ciptaan Allah SWTdan setiap manusia harus menaati Allah SWT -Menjawab pelbagai soalan yang tidak mampu dijawab oleh manusia. Sesetangah soalan yang sentiasa ditanya oleh manusia merupakan soalan yang tidak terjawab oleh akal manusia sendiri. Contohnya soalan kehidupan selepas mati, matlamat menarik dan untuk menjawabnya adalah perlu. Maka, agama itulah berfungsi untuk menjawab soalan-soalan ini. - Memberi rasa kekitaan kepada sesuatu kelompok manusia. Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan kelompok manusia. Ini adalah kerana sistem agama menimbulkan keseragaman bukan sahaja kepercayaan yang sama, malah tingkah laku, pandangan dunia dan nilai yang sama. – Memainkan fungsi kawanan sosial. Kebanyakan agama di dunia adalah menyaran kepada kebaikan. Dalam ajaran agama sendiri sebenarnya telah menggariskan kod etika yang wajib dilakukan oleh penganutnya. Maka ini dikatakan agama memainkan fungsi kawanan sosial 5 PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Berdasarkan uraian tersebut kita dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa agama adalah ajaran yang berasal dan Tuhan atau hasil renungan manusia yang terkandung dalam kitab suci yang turun temurun diwariskan oleh suatu generasi kegenerasi dengan tujuan untuk memberi tuntunan dan pedoman hidup bagi manusia agar mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, yang didalamnya mencakup unsur emosional dan kenyataan bahwa kebahagiaan hidup tersebut bergantung pada adanya hubungan yang baik dengan kekuatan ghaib tersebut. 3.2 Kritik dan Saran Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya. 6 Daftar Pustaka Sumber Buku: Mubarrak, Zakky, 2008. MPKT Buku Ajar II: Manusia, Akhlak, Budi Pekerti dan Masyarakat. Depok: Penerbit FEUI Kaelany, DR, 2009. Islam Agama Universal. Jakarta: Midada Rahma Press Sumber Internet: http://www.google.co.id http://www.wikipedia.or.id/islam http://www.cmm.or.id http://www.alrasikh.wordpress.com 7


MAKALAH
Kebutuhan Manusia akan Agama
Pembimbing:
Drs. H. Mustofa Bakir

Disusun oleh:
WAHID WIGIANTO
WAHY DANIYAH
WAHYU PUJI RIYANTO
WIWIK SUPRIHTIN
FKIP MATEMATIKA IG
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
Tahun 2011/2012
Kata Pengantar
Segala  puji  hanya  milik  Allah SWT.  Shalawat  dan  salam  selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW.  Berkat  limpahan  dan rahmat-Nya penyusun  mampu  menyelesaikan  tugas  makalah ini guna memenuhi tugas  mata kuliah AIK (Al Islam dan Kemuhammadiyahan).
Agama  sebagai  sistem  kepercayaan  dalam  kehidupan  umat  manusia  dapat  dikaji  melalui  berbagai  sudut  pandang.  Islam  sebagai  agama  yang  telah  berkembang  selama  empat  belas  abad  lebih  menyimpan  banyak  masalah  yang  perlu  diteliti,  baik  itu  menyangkut  ajaran  dan  pemikiran  keagamaan  maupun  realitas  sosial,  politik,  ekonomi  dan  budaya.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang kaitan Al Islam dan Kemuhammadiyahan), yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi, dan berita. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa UniversitasMuhammadiyah Purworejo. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu,  kepada  dosen  pembimbing  saya  meminta  masukannya  demi  perbaikan  pembuatan  makalah  saya  di  masa  yang  akan  datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.
Purworejo, 10 Oktober 2011
ii
Daftar isi

Halaman judul…………….……………………………………...……………                 I
Kata Penantar……………….…………………………………………………                 ii
Daftar Isi………………………...……………………………………………..                  iii

1   Pendahuluan
      1.1       Latar Belakang……………………………………………………..        1
      1.2       Tujuan……………………………………………………………....       2

2   Pembahasan
      Kebutuhan Manusia akan Agama…………………………………………                  3
      2.1       Pengertian Agama…………………………………………………
      2.2       Peranan Agama bagi Kehidupan Manusia……..…………………

3   Penutup
      3.1       Kesimpulan…………………………………………………………
      3.2       Kritik dan Saran……………………………………………………

4   Daftar Pustaka……………………………………………………………..
     
     
iii
Pendahuluan

1.1      Latar belakang
Ada beberapa alasan tentang mengapa agama itu sangat penting dalam kehidupan manusia, antara lain adalah :
  • Karena agama merupakan sumber moral
  • Karena agama merupakan petunjuk kebenaran
  • Karena agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika.
  • Karena agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia baik di kala suka, maupun di kala duka.
Manusia sejak dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan lemah dan tidak berdaya, serta tidak mengetahui apa-apa sebagaimana firman Allah dalam Q. S. al-Nahl (16) : 78
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Dia menjadikan untukmu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi sedikit di antara mereka yang mensyukurinya.
Dalam keadaan yang demikian itu, manusia senantiasa dipengaruhi oleh berbagai macam godaan dan rayuan, baik dari dalam, maupun dari luar dirinya. Godaan dan rayuan daridalam diri manusia dibagi menjadi dua bagian, yaitu
  • Godaan dan rayuan yang berysaha menarik manusia ke dalam lingkungan kebaikan, yang menurut istilah Al-Gazali dalam bukunya ihya ulumuddin disebut dengan malak Al-hidayah yaitu kekuatan-kekuatan yang berusaha menarik manusia kepada hidayah ataukebaikan.
  • Godaan dan rayuan yang berusaha memperdayakan manusia kepada kejahatan,yang menurut istilah Al-Gazali dinamakan malak al-ghiwayah, yakni kekuatan-kekuatan yang berusaha menarik manusia kepada kejahatan.


1
1.2 Tujuan agama
Salah satu tujuan agama adalah membentuk jiwa nya ber-budipekerti dengan adab yang sempurna baik dengan tuhan-nya maupun lingkungan masyarakat.semua agama sudah sangat sempurna dikarnakan dapat menuntun umat-nya bersikap dengan baik dan benar serta dibenarkan. keburukan cara ber-sikap dan penyampaian si pemeluk agama dikarnakan ketidakpahaman tujuan daripada agama-nya. memburukan serta membandingkan agama satu dengan yang lain adalah cerminan kebodohan si pemeluk agama.
Beberapa tujuan agama yaitu :
  • Menegakan kepercayaan manusia hanya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa (tahuit).
  • Mengatur kehidupan manusia di dunia,agar kehidupan teratur dengan  baik, sehingga dapat mencapai kesejahterahan hidup, lahir dan batin, dunia dan akhirat.
  • Menjunjung tinggi dan melaksanakan peribadatan hanya kepada Allah.
  • Menyempurnakan akhlak manusia.

Menurut para peletak dasar ilmu sosial seperti Max Weber, Erich Fromm, dan Peter L Berger, agama merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bagi umumnya agamawan, agama merupakan aspek yang paling besar pengaruhnya –bahkan sampai pada aspek yang terdalam (seperti kalbu, ruang batin)– dalam kehidupan kemanusiaan.






2
2. KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP AGAMA
2.1 Pengertian Agama

Kamis, 10 November 2011

Arti Cinta anak BASADA 2011

Kata pak Joko Cinta itu anugrah dari yang kuasa,
kata pak Minto Love is Cinta,
kata bu Rahma Cinta itu seperti amuba yang gak bisa dilihat,
kata bu Elis Cinta itu seperti akar kuadrat yang gak bisa dihitung,
kata pak Anwar Cinta itu ibarat seni dalam hidup,
kata bu Kenzi Cinta itu harus profesional,
kata pak sigit cinta menjadikan kebugaran dalam tubu,
kata bu Asih Cinta itu kayak virus komputer yang tiba-tiba menjngkit dan sulit terdeteksi.

Kamis, 13 Oktober 2011

KISAH ANAK ABORSI


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarrakatuh
Teruntuk Bundaku tersayang...
Dear Bunda...
Bagaimana kabar bunda hari ini? Smoga bunda baik-baik saja...nanda juga di sini baik-baik saja bunda... Allah sayang banget deh sama nanda. Allah juga yang menyuruh nanda menulis surat ini untuk bunda, sebagai bukti cinta nanda sama bunda....
Bunda, ingin sekali nanda menyapa perempuan yang telah merelakan rahimnya untuk nanda diami walaupun hanya sesaat...
Bunda, sebenarnya nanda ingin lebih lama nebeng di rahim bunda, ruang yang kata Allah paling kokoh dan paling aman di dunia ini, tapi rupanya bunda tidak menginginkan kehadiran nanda, jadi sebagai anak yang baik, nanda pun rela menukarkan kehidupan nanda demi kebahagiaan bunda. Walaupun dulu, waktu bunda meluruhkan nanda, sakit banget bunda....badan nanda rasanya seperti tercabik-cabik... dan keluar sebagai gumpalan darah yang menjijikan apalagi hati nanda, nyeri, merasa seperti aib yang tidak dihargai dan tidak diinginkan.
Tapi nanda tidak kecewa kok bunda... karena dengan begitu, bunda telah mengantarkan nanda untuk bertemu dan dijaga oleh Allah bahkan nanda dirawat dengan penuh kasih sayang di dalam syurga Nya.
Bunda, nanda mau cerita, dulu nanda pernah menangis dan bertanya kepada Allah, mengapa bunda meluruhkan nanda saat nanda masih berupa wujud yang belum sempurna dan membiarkan nanda sendirian di sini? Apa bunda tidak sayang sama nanda? Bunda tidak ingin mencium nanda? Atau jangan-jangan karena nanti nanda rewel dan suka mengompol sembarangan? Lalu Allah bilang, bunda kamu malu sayang... kenapa bunda malu? karena dia takut kamu dilahirkan sebagai anak haram... anak haram itu apa ya Allah? Anak haram itu anak yang dilahirkan tanpa ayah... Nanda bingung dan bertanya lagi sama Allah, ya Allah, bukannya setiap anak itu pasti punya ayah dan ibu? Kecuali nabi Adam dan Isa? Allah yang Maha Tahu menjawab bahwa bunda dan ayah memproses nanda bukan dalam ikatan pernikahan yang syah dan Allah Ridhoi. Nanda semakin bingung dan akhirnya nanda putuskan untuk diam.
Bunda, nanda malu terus-terusan nanya sama Allah, walaupun Dia selalu menjawab semua pertanyaan nanda tapi nanda mau nanyanya sama bunda aja, pernikahan itu apa sih? Kenapa bunda tidak menikah saja dengan ayah? Kenapa bunda membuat nanda jadi anak haram dan mengapa bunda mengusir nanda dari rahim bunda dan tidak memberi kesempatan nanda hidup di dunia dan berbakti kepada bunda? Hehe,,,maaf ya bunda, nanda bawel banget... nanti saja, nanda tanyakan bunda kalau kita ketemu
Oh ya Bunda, suatu hari malaikat pernah mengajak jalan-jalan nanda ke tempat yang katanya bernama neraka. Tempat itu sangat menyeramkan dan sangat jauh berbeda dengan tempat tinggal nanda di syurga. Di situ banyak orang yang dibakar pake api lho bunda...minumnya juga pake nanah dan makannya buah-buahan aneh, banyak durinya...yang paling parah, ada perempuan yang ditusuk dan dibakar kaya sate gitu, serem banget deh bunda.
Lagi ngeri-ngerinya, tiba-tiba malaikat bilang sama nanda, Nak, kalau bunda dan ayahmu tidak bertaubat kelak di situlah tempatnya...di situlah orang yang berzina akan tinggal dan disiksa selamanya. Seketika itu nanda menangis dan berteriak-teriak memohon agar bunda dan ayah jangan dimasukkan ke situ.... nanda sayang bunda... nanda kangen dan ingin bertemu bunda... nanda ingin merasakan lembutnya belaian tangan bunda dan nanda ingin kita tinggal bersama di syurga... nanda takut, bunda dan ayah kesakitan seperti orang-orang itu...
Lalu, dengan lembut malaikat berkata... nak,kata Allah kalau kamu sayang, mau bertemu dan ingin ayah bundamu tinggal di syurga bersamamu, tulislah surat untuk mereka... sampaikan berita baik bahwa kamu tinggal di syurga dan ingin mereka ikut, ajaklah mereka bertaubat dan sampaikan juga kabar buruk, bahwa jika mereka tidak bertaubat mereka akan disiksa di neraka seperti orang-orang itu.
Saat mendengar itu, segera saja nanda menulis surat ini untuk bunda, menurut nanda Allah itu baik banget bunda.... Allah akan memaafkan semua kesalahan makhluk Nya asal mereka mau bertaubat nasuha... bunda taubat ya? Ajak ayah juga, nanti biar kita bisa kumpul bareng di sini... nanti nanda jemput bunda dan ayah di padang Mahsyar deh... nanda janji mau bawain minuman dan payung buat ayah dan bunda, soalnya kata Allah di sana panas banget bunda... antriannya juga panjang, semua orang sejak jaman nabi Adam kumpul disitu... tapi bunda jangan khawatir, Allah janji, walaupun rame kalo bunda dan ayah benar-benar bertaubat dan jadi orang yang baik, pasti nanda bisa ketemu kalian.
Bunda, kasih kesempatan buat nanda ya.... biar nanda bisa merasakan nikmatnya bertemu dan berbakti kepada orang tua, nanda juga mohon banget sama bunda...jangan sampai adik-adik nanda mengalami nasib yang sama dengan nanda, biarlah nanda saja yang merasakan sakitnya ketersia-siaan itu. Tolong ya bunda, kasih adik-adik kesempatan untuk hidup di dunia menemani dan merawat bunda saat bunda tua kelak.
Sudah dulu ya bunda... nanda mau main-main dulu di syurga.... nanda tunggu kedatangan ayah dan bunda di sini... nanda sayang banget sama bunda....

Sabtu, 06 Agustus 2011

Persahabatan

Mungkin dimatamu aku gak selucu patrikk,
gak sepintar skuidword,
gak sekuad shandy,
atau gak sekaya tuan crab,
tapi percayalah aku punya hati setulus spongebob buad jadi sahabatmu selalu.

Mentari tak selamanya menyinarimu,
dunia tak selalu memperdulikanmu,
dan kekasihmu tak selamanya mencintaimu,
tapi diri nie kan selamanya menjadi sahabatmu.


Dari batu ku belajar ketegaran,
dari air ku belajar keberanian,
dan dari seorang teman ku belajar arti sebuah persahabatan.

Milikilah sebuah hati yang tak pernah membenci,
sebuah senyuman yang tak pernah pudar,
sebuah sentuhan yang takan pernah menyakiti,
dan sebuah persahabatan yang takkan pernah berakhir.

Aku bukan sebutir mutiara yang indah,
aku bukan setetes embun yang menyegarkan,
akupun bukan seorang malaikat yang kan slalu menjagamu,
tapi aku ingin menjadi seorang yang terbaik untukmu sahabat.

Aku masih bisa tersenyum saat aku kehilangan kekasih yang aku cintai,
aku masih bisa tertawa bila aku kehilangan harta yang masih dapat kucari,
tapi aku akan terluka dan bersedih apabila aku kehilangan sahabat kaya kamu.

Ketika hidup memberimu seratus alasan untuk menangis,
ingatlah!! tuhan masih memberimu seribu alasan tuk tersenyum.

Mungkin aku bukan siapa2 dimatamu semua temanmu lebih baik dariku,
aku mungkin hanya sepenggal iklan bagimu,
tapi ingat satu hal saat mereka ku akan tetap disini untukmu.

Ajarilah aku tentang arti kesetiaan,
ajarilah aku tentang arti menerima perbedaan,
ajarilah aku tentang arti persahabatan,
tapi jangan ajari aku arti sebuah perpisahan.

bulan takut kehilangan bintang,
laut takut kehilanagan ombak dan
begitu juga aku yang takut akan kehilangan dirimu sahabat.

Aku gak bisa jadi sahabatmu selamanya,
karena aku gak hidup untuk selamanya,
tapi aku akan jadi temanamu selama hidupku.